Rp 350,000
Tumpeng dan Ingkung
Filosofi Ingkung
Ayam Ingkung memiliki arti mengayomi, diambil dari kata jinakung dalam Bahasa Jawa kuno dan manekung yang artinya memanjatkan doa.
Ayam dipilih sebagai simbol manusia, ayam ingkung disajikan dengan utuh dan terlihat sedang bersungkur, artinya jika dihadap-Nya, manusia harus menunduk atau merendah dan berdoa kepada-Nya.
Filosofi Tumpeng
Ayam tu-kung atau ingkung selalu disandingkan dengan tumpeng. Nasi tumpeng ini yang kemudian jadi representasi dari puncak gunung atau konsep ketuhanan.
Mengerucut dan menjulang tinggi (vertikal) bermakna menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Dimana ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa)